Sidakangen Post 07/20/2008
 

Jumat, 18 April 2008
Korban bertambah jadi 16 orang
Keracunan nasi basi ditetapkan sebagai KLB


PURBALINGGA - Kasus keracunan yang menimpa puluhan warga Desa Sidakangen, Kalimanah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Purbalingga. Korban terus bertambah hingga Kamis (17/4) mencapai 16 orang, dengan rincian 11 rawat inap dan 5 lainnya rawat jalan.
Keterangan yang dihimpun Wawasan dari RSUD Purbalingga, 11 korban yang masih dirawat inap masing-masing Agung B (18), Farah (4), Inah (21), Aditya Nur (33), Meyla Rosyida (10), Kaswireja, Usman (18), Rasimin (47), Eko Budi S (11), Sugan, dan Rasmin (47). Sementara itu lima korban rawat jalan masing-masing Kiswandi (34), Sutriyati (24), Teguh (26), Sarinah (23), dan Ahmad S (27).
Kepala Dinkes Purbalingga dr Dyah Retnani Basuki membenarkan telah menetapkan kasus tersebut sebagai KLB. Untuk itulah sampel makanan berupa nasi kuning telah dikirim untuk diperiksa di laboratorium kesehatan di Semarang. Pihaknya tidak mau hanya berspekulasi mengenai penyebab utama. Bisa saja karena mikroba, namun semua harus dibuktikan secara ilmiah dengan pemeriksaan. "Sedikitnya untuk kepastian diperlukan waktu paling lama satu bulan," tuturnya.
Menyimpulkan dugaan kasus keracunan yang tergolong KLB, menurut Dyah, membutuhkan penelitian secara ilmiah. Hal ini terkait dengan disiplin ilmu pasti, bukan sekadar anggapan atau kebiasaan bahkan perkiraan. Memang dari segi ilmu kesehatan, makanan yang akan disimpan dianjurkan dimasukkan ke pendingin misalnya lemari es, atau makanan dipanaskan kembali.
Hal itu dilakukan untuk mengurangi atau mencegah mikroba masuk dan berkembang. Walaupun diakui Dyah, secara ilmu keamanan pangan, hal tersebut sangat tidak baik.
Kondisi tubuh

Selain penyimpanan makanan, ketahanan tubuh juga sangat mempengaruhi efek dari racun yang ditimbulkan di tubuh. Ada yang singkat dan langsung terasa, dan ada yang memerlukan waktu lama. "Pola dan perilaku manusia juga mempengaruhi kesehatan mereka, terutama pada anak," terangnya.
Seperti diberitakan Wawasan kemarin, puluhan warga Desa Sidakangen, Kecamatan Kalimanah, Purbalingga Rabu (16/5) mengalami gejala mual-mual serta kepala pusing. Kondisi itu terjadi ketika mereka usai menyantap nasi kuning yang diperoleh dari hajatan yang digelar di desa.
Diperkirakan, warga yang mengalami gejala keracunan tersebut adalah mereka yang menyantap makanan itu keesokan harinya. Nasi kuning yang disajikan terdiri dari nasi dengan lauk sayur kering tempe, kacang, irisan telur serta mi dan ditambah mentimun.

 


Comments

astomo

Thu, 28 Aug 2008 01:00:30

kalo kata changuters ada lagi, wanita racun duniaaaaa../

 

Mon, 09 Feb 2009 14:51:22

Para pengusaha katering hendaknya diberi penyuluhan cara pengolahan dan penyajian makanan yg sehat dan higienis

 



Leave a Reply

    Rabu, 19 Agustus 2009 | 10:45 WIB
    Warga Tolak Pendatang 

    PURBALINGGA
    Untuk ketiga kalinya dalam sepekan terakhir, penolakan terhadap sekelompok pendatang terjadi di wilayah eks Karesidenan Banyumas dan sekitarnya. Penolakan terakhir dialami 12 pendatang asal Sulawesi Tengah yang berkunjung ke Masjid Nurul Huda di Desa Sidakangen, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Senin (17/8) malam.

    Warga mengaku khawatir menerima pendatang yang seperti itu mengingat adanya sejumlah kasus terorisme di Jawa Tengah belakangan ini. Apalagi, kata mereka, musafir yang datang semuanya mengenakan sorban panjang dan berjenggot, seperti penampilan beberapa pelaku terorisme.

    ”Untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan, kami melaporkan mereka ke Kantor Polsek Kalimanah,” ujar Subeki (40), warga setempat.

    Setelah pelaporan itu, sekitar pukul 20.00 ke-12 musafir tersebut dibawa ke Polsek Kalimanah. Polisi memeriksa dan menginterogasi mereka. Kepada polisi, para pendatang itu mengaku sebagai kelompok jemaah tablig. Kedatangan mereka ke Kalimanah untuk mengadakan dakwah.

    Menginap di masjid

    Menurut sejumlah warga, ke-12 pendatang itu tiba di Kalimanah pada Sabtu malam. Sebelum dijemput aparat Polsek Kalimanah, mereka menginap di Masjid Nurul Huda dan mengadakan dakwah di masjid tersebut.

    Setelah diperiksa polisi, kemarin pagi ke-12 orang yang berasal dari Kabupaten Bunggai, Sulawesi Tengah, itu dinyatakan tidak terbukti terkait dengan jaringan teroris dan dilepas. Namun, pejabat di Polsek Kalimanah menolak memberikan keterangan.

    Sebelumnya, penolakan terhadap pendatang dilakukan warga Desa Damarkradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, dan warga Desa Pagutan, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga.

    Di Damarkradenan, tiga lelaki berjenggot, berjubah, dan bercelana hanya sampai di atas mata kaki ditolak warga, Jumat lalu. Dalihnya, penampilan mereka mencurigakan, di samping tertutup dan enggan melapor sebagai tamu kepada perangkat desa setempat.

    Di Desa Pagutan, kehadiran sembilan orang berkewarganegaraan Filipina ditolak warga, Sabtu lalu. Menurut keterangan warga, sejak Jumat malam kesembilan orang asing itu menumpang di salah satu bangunan di belakang Masjid Darussalam, RT 1 RW 13 Pagutan, Kecamatan Bojongsari. Penampilan mereka hampir sama dengan tiga orang yang diusir warga Darmakradenan.

    Desk antiteror

    Terkait dengan antisipasi terorisme, di Kota Semarang, Jawa Tengah, kemarin, Asisten Pengamanan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Mayor Jenderal Hendardji Soepandji mengemukakan, analisis terkait dengan ancaman terorisme di lingkungan TNI AD, saat ini disiapkan Desk Antiteror TNI. Desk tersebut bertugas mencatat dan mengevaluasi segala macam ancaman terorisme yang muncul.

    Dengan demikian, katanya, TNI dapat dengan mudah memprediksi kemungkinan yang terjadi. TNI pun siap apabila sewaktu-waktu Polri membutuhkan catatan tersebut untuk mengantisipasi terorisme. 
    (HAN/DEN/EKI/kcm)

    Suara Merdeka
    Jumat, 04 Januari 2008 
    Balita Penderita Kanker Retina Meninggal
    Purbalingga, CyberNews. Agung Triyono, bocah 2 tahun yang menderita kanker retina mata? Anak pasangan Parsidin-Tursinah, warga Desa Sidakangen, Kecamatan Kalimanah, Purbalingga itu akhirnya meninggal, Jumat (4/1) pagi.
    Dia menghembuskan nafas terakhir saat dirawat di RSUP Sardjito Yogyakarta. Jenasah Agung dikebumikan Jumat (4/1) siang di pemakaman Desa Sidakangen. Sejumlah tetangga mengaku trenyuh dengan nasib bocah yang dulu menggemaskan itu.
    ''Kami kira ini adalah yang terbaik bagi Agung. Penderitaannya dirasa cukup oleh Allah sehingga Dia memanggilnya kembali,'' ujar seorang tetangga.
    Menurut Parsidin, derita anaknya dimulai saat awal tahun 2007. Ketika bangun tidur mata kanannya terlihat merah. Dia lalu dibawa ke puskesmas tetapi tak juga sembuh. Kemudian pengobatannya pindah ke sebuah klinik di Purwokerto. Saat itu baru diketahui dia menderita kanker retina (retinoblastoma).
    Agung selanjutnya dirujuk ke RSUD Margono. Dokter menganjurkan kedua mata diambil untuk mencegah kanker merembet ke otak. Namun orang tua keberatan sehingga yang ambil hanya mata kanan. Beberapa minggu kemudian mata kiri Agung mengalami gejala sama dengan mata kanannya yang sudah diambil.
    Parsidin membawa kembali ke RSUD Margono namun mereka angkat tangan karena kanker sudah menyebar. Saat itu mata kirinya mecotot seperti mau keluar, muncul banyak benjolan di pelipis dan belakang kepala. Semua gusi bengkak sehingga tidak bisa untuk mengunyah apa pun.
    Pasien dirujuk ke RSUP Sardjito, Yogyakarta. Parsidin bingung dengan pembiayaan karena dia hanya tukang becak. Dia baru bisa membawa Agung ke Yogyakarta setelah mendapat bantuan dari masyarakat. Beberapa minggu di Sardjito kondisi Agung membaik.
    Dia dibawa pulang selama 5 hari. Kemudian Agung berobat lagi ke Yogyakarta. Namun hanya beberapa minggu, pasien dibawa pulang lagi karena Parsidin kehabisan uang. Saat itulah kanker kembali mengganas dan menggerogotinya. Sebab pasien tidak lagi mendapat penanganan dokter.
    Setelah derita Agung dimuat lagi di beberapa koran, Parsidin mendapat sumbangan lagi. Dia pun berangkat ke RSUP Sardjito. Namun kondisi bocah itu sudah kritis. Kanker sudah menyebar ke mana-mana. Hingga akhirnya dia meninggal hanya sekitar seminggu setelah dirawat.