Summer Vacation To Sidakangen
By Erika
Sebuah kreatifitas yang menarik untuk disimak, Perjalanan yang diceritakan dalam slide, lalu disambung dengan Handy Camera dan Animasi pada awal Vidio.
Terimakasih atas perhatiannya pada desa tercinta kami....
Thanks Erika, It's a great Video....
Ulasan dari Bandung:
Intrik Politik di Kerajaan Singasari *)
Dibalik Kutukan empu Gandring.....
Pernah dengar KERIS EMPU GANDRING ?
Konon keris ini merajai dunia persilatan dieranya. Terlepas itu legenda atau sejarah, mari kita menengok kembali sepak terjang dari Keris EMPU Gandring tersebut. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Politik Senayannya Singasari termasuk pemesan dan pemakainya, Ken Arok.
Pada akhir cerita saya akan sedikit mengajak menguak fakta sejarah melalui pendekatan logika tentang ”tuah” yang ada pada keris ini. Keris EMPU Gandring adalah senjata pusaka, yang mempunyai sumbangsih terhadap cikal bakal berdirinya Kerajaan Singasari (kata orang daerah ini sekarang adalah Malang, Jawa Timur). Tersebutlah seorang pandai besi yang dikenal juga dengan nama empu yang sangat sakti bernama EMPU Gandring, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang brahmana bernama Lohgawe adalah titisan wisnu. Ken Arok memesan keris ini kepada EMPU Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para "EMPU" sekaliber Pak Gandring sekalipun. Namanya EMPU Gandring, dia tetap menjaga imej dunia empu dengan menyanggupinya, tentunya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan mistis yang konon dikatakan melebihi keris pusaka manapun pada masa itu, karena kekuatan si EMPU "ditransfer" habis-habisan kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris Limited Edition ini. Tetapi, belum lagi wrangka (sarung keris) selesai dibuat, Ken Arok tergopoh-gopoh datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah 1 X 24 jam. Tersebutlah Ken Arok menguji Keris tersebut. Top pisan jere KEN AROK. Tapi Ken Arok tetap tidak puas, karena kenyataannya Sarung Keris belum dibuat (Jangan lupa, Ken Arok adalah Politisi yang pasti suka nyari-nyari kesalahan orang). Dengan alasan tersebut, keris ditusukkannya pada EMPU Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat). Selebihnya dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris serta untuk menambah keampuhannya. Dalam keadaan sekarat, EMPU Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa TUJUH turunan delapan tanjakan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singasari antara lain :
1. Tunggul Ametung, Penguasa Tumapel pada saat itu.
2. Ken Arok, Pendiri Kerajaan Singasari.
3. Anusapati, Anak Ken Dedes (Istri KEN AROK)
4. Tohjaya, Anak Ken Arok dengan Ken Umang.
Tetapi sesungguhnya,.......NYAWA (KORBAN) KUTUKAN EMPU GANDRING BELUMLAH GENAP ..... !
1. Terbunuhnya Tunggul Ametung (Korban Ke – 1)
Tunggul Ametung, adalah kepala daerah (Gubernur) Tumapel (cikal bakal Singasari) yang saat itu adalah bawahan dari Kerajaan Kediri dan diperintah oleh Kertajaya yang bergelar "Dandang Gendis" (raja terakhir kerajaan ini). Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah Kerajaan Jenggala yang dihancurkan Kediri, dimana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh Airlangga. Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, Ken Dedes. Ken Arok sendiri saat itu adalah tangan kanan Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa "Barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia". Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan dulu kepada rekan kerjanya, yang bernama Kebo Ijo yang sangat tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya kemana-mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan terencana yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo (Korban Ke – 2), yang konon dibunuh dengan keris pusaka itu.
2. Terbunuhnya Ken Arok (Korban Ke – 3)
Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung anak dari Tunggul Ametung, berhasil memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singasari. Rupanya kasus pembunuhan ini tercium juga oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan ayah Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan. Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya. Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Empu Gandring yang dikenal sebagai Keris Empu Gandring. Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Empu Gandring yang dibunuhnya dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya. Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang. Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang bertugas sebagai "eksekutor" terhadap Ken Arok. Tugas itu berhasil dilaksanakannya dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati juga membunuh Ki Pengalasan (Korban Ke – 4) dengan keris itu.
3. Terbunuhnya Anusapati (Korban Ke – 5)
Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, namun tidak lama. Karena Tohjaya, Putra Ken Arok dari Ken Umang akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas. Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Empu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini sebagai pembunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati. Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik dikalangan rakyat bawah maupun kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal.
Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Menurut beberapa sumber sejarah tewasnya Tohjaya akibat dari Sang Pusaka Keris Empu Gandring, untuk itu Tohjaya saya nyatakan sebagai Korban ke – 6.
Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan dikatakan sebagai masa keemasan kerajaan Singasari.
Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Empu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya..... Mungkinkah Anda salah satu pemiliknya?
4. Turunan Ken Arok dan Misteri Nyawa Yang Dicari Empu Gandring
Keris Empu Gandring ini menurut beberapa sumber spritual tuk gathuk dan mistis kejawen sebenarnya tidaklah hilang. Dalam arti hilang musnah dan benar-benar tidak ketahuan keberadaannya. Pada bagian saya ini hendak mengajak PARA KADANG SANAK SEDULUR, untuk sejenak menganalisa "tuah" dari keris itu maupun pembuatnya (Empu Gandring). Pada Keris Mpu Gandraing Jilid 1 diceritakan pada saat Mpu sekarat dia NYUPATANI Ken Arok, bahwa keris itu akan menelan korban tujuh turunan darinya (Ken Arok). Sekarang marilah kita hitung. Dalam sejarah ataupun legenda yang kita ketahui, ternyata "hanya" ada 6 (enam) orang yang terbunuh oleh Keris Empu Gandring.
Yaitu : 1. Tunggul Ametung, Penguasa Tumapel pada saat itu.
2. Kebo Ijo, rekan Ken Arok.
3. Ki Pengalasan, Sang Eksekutor Ken Arok, yang tidak lain adalah Body Guard Anuspati
4. Ken Arok, Pendiri Kerajaan Singasari.
5. Anusapati, Anak Ken Dedes dengan Suami Tunggul Ametung
6. Tohjaya, Anak Ken Arok dengan Ken Umang.*)
Empu Gandring Tidak dihitung sebagai Objek Kutukan, karena dia yang NYUPATANI, masa dia NYUPATANi dirinya sendiri. Jeruk makan jeruk dong......Dari daftar itu, ternyata "hanya" enam orang yang terbunuh oleh Keris Empu Gandring. Itu pun hanya 1 (keturunan) dari Ken Arok, yaitu Tohjaya. Jika Ken Arok "dianggap" yang termasuk dalam daftar 7 orang yang "terkutuk", maka baru ada 2 (dua) orang dari trah Ken Arok yang terbunuh dengan Keris Empu Gandring. Sedangkan daftar lainnya bukanlah sanak kadang dari Ken Arok itu sendiri. Nah, jika "tuah" kutukan Sang Mpu benar-benar manjur. Maka kita harus mulai menelusuri silsilah keluarga besar kita. Jangan-jangan kiita termasuk dalam "trah" (Keluarga Besar Keturunan Ken Arok) yang kita tahu "baru" 1 orang keturunan dari Ken Arok yang terbunuh dengan keris itu (Tohjaya, anak dari hasil perkawinan dengan Ken Umang) . Atau paling tidak ada dua (jika Ken Arok termasuk didalamnya). Atau bisa jadi Kutukan Sang Mpu tidak hanya termasuk dalam 7 orang keturunan Ken Arok, tapi 7 orang saja dan itu bisa siapa saja (TAPI TIDAK TERMASUK SAYA). Namun demikian kita tetap harus berhati-hati, karena keris itu belum lengkap memakan 7 nyawa manusia, alias masih ada 1 orang lagi yang menunggu giliran untuk terbunuh dengan Keris Empu Gandring.
WASPADALAH..... WASPADALAH..... WASPADALAH..... WASPADALAH.....
*) digali dari berbagai sumber sejarah diterjemahkan secara ngawur oleh Sigit Nur Seto
Surat dari Kerabat
Dodo Menulis:
Kang Gino
Namanya Gino. Entah siapa kepanjanganya. Orang-orang memanggilnya kang Gino. Rumahnya, terbuat dari bilik bambu berukuran 5X7 meter beralaskan tanah seperti lagunya grup legendaris God Bless, tanpa hiasan tanpa lukisan. Tapi God Bless lupa, penghuni bilik yang satu ini sangat kokoh menopang rumahnya, hingga tak akan goyah dihantam badai bencana. Tak jua lekang dihempas coba –derita, tak mudah menyerah dirundung malapetaka.
Aku sangat suka mendatanginya, buat sekedar pangkas rambut atau ngobrol ngalor – ngidul nggak jelas topiknya. Aku senang karena di sana seperti ada semacam gairah hidup. Ada kedamaian, kesejukkan yang mengalir dari aura pemiliknya. Pohon nangka yang berada tepat di sebelah kanan jalan masuk rumahnya, seperti AC yang menawarkan kesejukan tatkala terik surya menyengat kulit kepala. Ia memelihara beberapa ekor ayam yang tinggal ‘serumah’ dengannya, tapi sama sekali tidak takut ancaman flu burung yang menggemparkan dunia. Anyaman dari kulit bambu berupa peralatan dapur yang menumpuk di sudut rumahnya adalah hasil karyanya. Sangatmenakjubkan, saya pasti tidak bisa membuat kerajinan tangan sebagus itu.
Ia tak memasang listrik sendiri. Aliran setrum yang sekarang lagi krisis itu, diambil dari rumah tetangganya. Entah bagaimana aturannya. Tetapi, orang Jawa percaya, siapapun yang memberi cahaya bagi orang lain, niscaya tak akan pernah redup hidupnya. Lampu pijar yang hanya 5 watt itu memancar terang keseluruh sudut biliknya dan kehangatannya senantiasa mengalir dari obrolan-obrolan orang-orang yang selalu hadir di rumahnya tatkala malam meremang dan hawa dingin persawahan meniup lembut pedusunan. Di siang haripun banyak tetangga memilih beristirahat di kursi panjang di serambi rumahnya yang teduh.
Dulu, ia adalah remaja kuat dan cekatan seperti layaknya pemuda lainnya di kampung kami sebelum kecelakaan hampir-hampir menenggelamkan seluruh masa depannya. Sebuah batang pohon menimpa kaki kirinya saat bekerja, hingga ia harus pulang menggunakan kursi roda hingga sekarang. Seingat saya sudah lama sekali kang Gino duduk di kursi roda itu. Kursi yang beberapa bagian ia modifikasi sendiri katanya biar pas dengan kebutuhannya. Kursi yang tidak pernah diganti. Semasa aku TK dulu, dia sudah terduduk di kursi roda butut itu, terdiam setiap pagi di tepi jalan dekat persawahan menghadap ke arah matahari terbit. Entah apa maksudnya. Kenapa dia bisa begitu tenang menjalani hidupnya?
Inilah yang membuat aku tertarik sesungguhnya. Aku selalu tak habis mengerti kala itu. Lama aku mempelajari, berguru dan menimba falsafah hidup, belajar menatap masa depan di mata kang Gino. Setiap aku mengingatnya, optimismeku akan masa depan terdongkrak tinggi-tinggi. Dan itu pula yang aku lakukan setiap gairah hidupku merosot, enggan melangkah tergerus waktu dan keadaan, aku selalu menoleh kang Gino. Aku bukan apa-apa…..
Perjalanan hidupnya yang beku dan panjang, tak membuat istrinya yang cantik meninggalkanya. Kenyataan hidup yang getir, yang harus dilewatinya bersama kang Gino tak membuatnya lalu berpaling. Mereka berdua, sering saya lihat berjalan-jalan, bersilaturahmi seperti tak ada beban dalam rumah tangganya, seperti tidak terjadi apa-apa dengan kaki sebelah kiri kang Gino. Kesabaran adalah matahari yang selalu memberi sinar pengharapan setiap pagi. Seorang Istri cantik dan sangat setia, belahan jiwa yang rela menemani kekasih hatinya melewati hari-hari panjang yang tak berhasil melumpuhkan api semangat hidupnya, adalah pemberian Tuhan yang sempurna. Tuhan benar-benar telah menganugerahkan seorang bidadari untuknya…….. !
Aku kini mulai berpikir, mulai memahami dan mengerti, bahwa hidup bukan sekedar materi, bahwa cinta, bukan cuma rasa suka dua manusia, aku telah meyakini, bahwa Tuhan tak akan berhenti mengasihi umatnya.
Kang Gino mungkin tak punya prestasi besar untuk negeri ini. Tetapi bagiku, dimataku, kang Gino seperti buku yang mengajari banyak ilmu, laksana guru yang mendidik dalam bertingkah laku. Ia sangat kuat dan tahan menghadapi deraan hidupnya. Ia bukan manusia kebanyakan yang mudah patah arang dan putus harap.
Benar kata pepatah, jangan lihat siapa yang berbicara, tapi dengar apa ucapannya!
Untukmu kang, sampean telah mengajariku hakekat hidup yang paling dalam, terima kasih…Semoga Tuhan senantiasa memberi keluargamu rizki, kekuatan, ketabahan dan kesehatan.
Ditulis di Jepang, 24 Januari 2009
Untuk Sidakangen (mimpi-mimpiku)*
18 03 2008
Kentingan hari ini masih berawan
Seperti pertama kali ku datang ke sini
Kemarin aku memimpikanmu lagi
Berjalan bersama menyusuri koridor sepi
Aku harap kau baik saja kini
Walau aku tahu kau tak sendiri
Aku berjanji tak akan menemuimu lagi
Sampai aku dapat memberhasilkan diri
Memang berat langkahku ini
Mengejar waktu yang tak pernah berhenti
Aku terlindas detik-detik yang harusnya berarti
Aku hidup dalam anganku sendiri
Tapi ini penting
Jika aku masih ingin berdiri,
Tegak di atas singgasanaku yang menanti
2004
Ket : sidakangen adalah kampung halaman sahabat karibku
*)Diambil dari blog seseorang yang memberi judul blognya:
Kazemaru online
Sabtu, 2008 Agustus 23
Desaku Sidakangen Ijoroyoroyo punya Speedy
Sudah sepuluh tahun aku memendam rasa rindu untuk melihat desaku yang kutinggalkan , disanalah asal eyangku dan bersyukur aku kepada Yang Maha Satu sampai sekarang aku masih punya nenek yang sudah renta tapi dengan setianya tinggal didesa yang subur .
Dengan berbekal sebahu ( 17 rante x 400 m2 ) sawah , nenekku dapat mencukupi pangannya dan itulah yang keseharian dia pangdang sambil sesekali memanggil bebeknya untuk diberi makan .
Pada bulan april duaribu delapan yang lalu , Yang Maha Satu memberi rizki melalui perusahaan tempat saya mengabdi sehingga rasa kangenku dapat terobati untuk memeluk nenek sekaligus saudara dan handaitolan .
Setelah dua hari aku bercengkrama dengan nenek dan saudara lainnya, baru aku ada kesempatan jalan-jalan melihat sekeliling desaku yang jaraknya 5 km dari kota kabupaten Purbalingga atau banyak orang menyebut kota penglima Besar Jenderal Sudirman .
Aku bangga terlahir dari sebuah desa yang toto tentrem dengan masyarakatnya yang bersahaja , walaupun pada usia tiga tahun aku dibawa merantau orang tua ke Sumatera Utara.
Yang lebih bangga lagi ternyata desaku sekarang sudah terlayani telepon dengan menggunakan kabel , sehingga dapat aku jumpai warnet Speedy walaupun hanya tiga PC dan didalamnya ada satu anak SD dan dua anak SMP sedang asyik browsing internet.
Terima kasihku ucapkan kepada Pemerintah c/q PT Telkom yang telah membuka gerbang dunia malalui layanan Speedy , sehingga desaku terutama anak-anak sekolah tidak perlu kekota untuk melihat dunia maya dan dapat dengan cepat dapat menceritakan segala berita kepada orangtuannya mengenai perkembangan dunia.
Itulah sepenggal cerita mudikku , semoha Yang Maha Satu selalu memberi kesehatan dan rizki sehingga aku selalu dapat melihat nenek mumpung masih diberi umur.
Wassalam Mr Purbalingga diposkan oleh ngudianto di 19:35 pada 2008 Agu 23
Diambil dari blog seseorang yang mengaku bernama Ngundianto dan memberi judul blognya:
http://ngudianto.blogspot.com/