Pasar Pagi Sidakangen

Setiap Minggu pagi, usai kecape an mutar-muter kampung, singgahlah di sini. Ada pasar kaget jajanan Pasar dari jam 5.30 hingga jam 09.00. Lengkap betul ada kluban, gorengan, cenil, awug-awug, gesret (jenenge western ya?), klepon, ondol-ondol, jiwel ireng dan seabreg jajanan jadul. Dijamin sampean bakalan puas sekaligus nostalgia bagi lidah yang terlalu sering mengecap panganan Landa. Tidak perlu gesek kartu  kredit, tak perlu bawa ATM karena hanya dengan lima ribu rupiah saja, sampean sudah kewaregen!. Sejuknya hawa pedesaan dan hangatnya suasana mbok-mbok penjual, sembari digreng minum kopi, rasanya tak ada yang lebih indah di dunia ini dibanding suasana pasar pagi Sidakangen! 


Jembatan Merah

Dulu, jembatan ini berwarna merah. Bikinan Pemerintah kolonial Belanda sebagai transportasi kereta tebu dari perkebunan rakyat ke pabrik penggilingan tebu di Kalibagor. Jembatan ini bukti politik tanam paksa Belanda atas rakyat kala itu. Jembatan ini adalah sejarah yang bisu. Jaman lalu berganti. Rezim orba saat itu dikenal paling anti warna merah mengecat jembatan dengan warna kesukaan: Kuning, Sesuai Program Konyol mereka Kuningisasi waktu itu. 32 tahun kemudian, Rezimpun tumbang. Sayangnya, warna jembatan tidak lagi bisa dikembalikan ke warna aslinya. Memprihatinkan memang. Kita sering abai terhadap nilai-nilai Histori, kita suka lalai pada momentum sejarah, padahal konon, tidak ada cerita baru di Bumi Tuhan, segalanya berulang dan terulang, menghilangkan jejak sejarah, adalah pembutaan generasi bangsa...


Robohnya Sekolah kami

Dari bangku reot dan dinding penuh tambalan ini telah lahir banyak anak-anak desa yang sanggup merebut masa depannya dengan gemilang.
Sayang, tak ada satupun dari mereka yang merenungi nasib "rumah kedua" mereka itu, yang kini tinggal gedung kosong, hampa tanpa makna. Siapa Peduli?  Mungkin tak ada, tapi gedung tua ini cukup bangga dengan putera-puterinya. Berpikirlah mulai sekarang, jadikan bangunan ini lebih berarti bagi anak-anak negri! Ayo bangun Koalisi untuk membangun Generasi Baru, menyambut masa depan baru... Jangan ajak mereka bernasib sama dengan kita. Berpegangan tangan membukakan jalan untuk bintang-bintang baru dari Jadirindu.


Hitam Kaliku

Menatap Gambar ini, di mata saya melihat kami berlompatan dari wadas yang satu ke wadas lainya, terjun bebas, tertawa lepas, dikecipak jernih kali Ponggawa jaman kami kecil dulu. Hampir setiap hari mandi di kali ini, kali Pong yang mengurat nadi desa kami. Setiap hari tak perduli pagi, siang maupun sore, kami menghabiskan waktu di sini berjam-jam hingga mata kami memerah. Sangat menyenangkan bermain di kali dengan air jernih dan meluap-luap. Sama sekali tak ada takut di hati kami karena kali ini tempat berhimpun kami, sarana bermain anak-anak desa sekaligus dus-dusan, bahasa gaul berenang. Kini, wujudnya sudah sangat mengerikan dan membahayakan. tak ada kali jernih, tak ada air meluap-luap, tak ada kecipak anak-anak berkelakar dengan sesekali terdengar deburan air karena kami berkejaran dan lalu menghilang di dalam air. Ia kini, seperti telah mati, seperti dipaksa mati. Airnya hitam, berbusa dan dan mulai menebarkan bau tidak sedap. Telah berubahkah zaman? hingga kita alpa menjaga jantung kita, kali kita? Kapan itu akan kita lakukan? kesadaran membenahi urat nadi, dengan tidak menjadikannya sebagai tempat sampah dan limbah industri? Kelak kita akan ditanya anak-anak zaman, kenapa itu tidak kita lakukan?


Born to Die

Sering-seringlah datang ke tempat ini, atau kalau tidak mungkin, jika Anda pulang, luangkan waktu duduk sendiri disini. Karena kelak, kita akan bersemayam di sini sendiri.... Merenunglah di sini, di bawah teduhnya rerimbunan kamboja. Menerawang alam setelah kematian menjemput, setelah tidak ada lagi hitungan waktu dan hari.
Duduklah di sini, agar kita tidak lalu lupa diri, biar kita merasa, kelak atau suatu hari nanti, kita akan terbujur mujur ngalor, beristirahat setelah jauh melewati perjalanan waktu yang sangat panjang dan melelahkan. Setelah lelah mengarungi alam fana yang luas.... menghadap Tuhan Hyang Maha Widi. Tidak ada yang perlu ditakutkan dengan hal pasti, di sini, di batu nisan ini, kelak akan tertera nama kita, tanggal, bulan, tahun kelahiran dan ..... kematian....